Saat aku kenal kamu, jujur aku kagum. Itu pertama kali aku melihatmu. Aku penasaran siapa kamu sebenarnya. Yang kedua kalinya aku melihatmu, semakin kagum dengan sorotan matamu yang begitu indah. Rasa penasaran sedikit hilang. Kini, ada perasaan yang timbul dari hati. Entah apa. Ketika suatu saat kita sempat berbincang, ada rasa yang membuat hatiku berdebar. Iya berdebar. Aku menyadarinya, aku suka padanya. Aku dapat kesempatan indah itu walaupun hanya seminggu, karena tergantung dalam keadaan. Seminggu penuh ku puaskan hal itu, hingga hari terakhir aku kehilangan harapan. Hilang harapan untuk bertemu dan berbincang kembali.
Akhirnya aku bertemu seseorang dalam ruang yang sama. Pindah ke hati seseorang dengan begitu cepat. Orang yang menurutku lebih baik daripada dia. Ku teruskan perasaanku setelah berpindah hati darinya. Sakit sekali melihatnya masih berharap pada sang mantan. Masih bisa ku maklumi. Kebanyakan orang begitu. Sering ku menatapnya, dan aku sangat sangat senang ketika dia menatapku kembali. Perasaan itu juga masih ku pendam. Tak ada yang tahu soal perasaan ini. Dan aku tak mau ada yang tahu.
Ketika ku duduk dekat dengan seseorang, terbayang-bayang wajahmu ketika aku duduk denganmu. Kamu, orang yang dulu aku suka. Semakin menjadi-jadi rasa rinduku. Kubuang jauh-jauh perasaan itu yang membuat konsentrasiku buyar. Sulit, sunguh sulit. Aku pasrah. Dan aku menaruh hati(lag
i) padamu. Mungkin memang begini jalannya. Harus ku tempuh.
Tak sanggup terus menerus memendam perasaan ini. Hingga aku menaruh rahasiaku pada seorang sahabat yang ku percayai. Banyak harapan yang ku gantungkan. Aku sabar menunggu. Setiap wujudmu yang membuatku ingin selalu menatapmu, sesekali kau meliriku. Hal itu membuatku semakin yakin harapanku akan terwujud. Harapan yang begitu besar untuk mendapatkanmu. Apalagi di tambah sahabatku yang meyakinkan bahwa orang yang aku suka, suka juga padaku. Waktu berganti waktu, hari berganti hari, cukup lelah menunggu semua ini. Apa aku harus memulai duluan? Mustahil. Rasanya tidak srek kalau perempuan yang memuainya duluan. Ku coba untuk ku mengerti, "Mungkin dia belum peka". Ya, terpaksa harus tetap menunggu.
Hingga di akhir-akhir rasa yakin yang akan terwujud, kamu mempunyai kekasih. Kekasih itu teman dekatku dulu. Cukup. Betapa sakit dan rapuh hati ini. Apa kau tak bisa membaca pikiranku? Disaat aku menatapmu dengan tatapan mata yang berbeda, Apa yang kau rasakan? Apa kau tidak menyadari ada keanehan? Haft, Mungkin perasaanmu biasa saja. Ini balasanmu padaku? Sekian lama aku menyukaimu, mengharapkanmu, dan menunggumu. Mungkin ini jawaban sesungguhnya, bahwa kamu tidak suka padaku. Iya, aku terima. Seberapa sakitnya tetap aku terima. Aku hanya menunggu kau putus dengan kekasihmu. Tetapi bukan sebagai Perusak Hubungan Orang. Aku takkan mengganggu kalian. Itu saja, tidak lebih. Jujur aku lebih merasa bahagia kalau kau sendiri/single, walau sampai kapanpun aku takkan pernah memilikimu.